Representasi Makna Pengorbanan Sandwich Generation dalam Film Home Sweet Loan (Analisis Semiotika Roland Barthes)
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memahami bagaimana makna pengorbanan generasi sandwich direpresentasikan dalam film Home Sweet Loan melalui pendekatan semiotika Roland Barthes yang mencakup denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan enam adegan terpilih sebagai objek analisis yang menggambarkan dinamika kehidupan tokoh utama, Kaluna. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara denotasi, pengorbanan Kaluna divisualisasikan melalui berbagai beban di ranah domestik, seperti mencuci tumpukan piring kotor, merapikan mainan keponakan, kehilangan ruang pribadi karena pindah ke kamar belakang yang sempit dan pintunya diganjal batu bata, hingga momen kebahagiaannya ketika mengunjungi perumahan impian. Puncaknya terlihat dalam adegan refleksi mendalam atas hasil kerja kerasnya yang diakhiri dengan tangis haru di pelukan ayahnya saat keluarga sepakat menjual rumah mereka. Secara konotatif, adegan-adegan tersebut menggambarkan hak individu Kaluna yang terkikis atas waktu, ruang pribadi, dan masa depan finansial. Tugas-tugas domestik yang ia jalani mencerminkan tekanan berat akibat akumulasi tanggung jawab keluarga yang secara sepihak dibebankan kepadanya. Kamar kecil dengan pintu ganjal batu bata merepresentasikan kepasrahan total seorang anak bungsu yang kehilangan kendali atas wilayah pribadinya di rumah. Di sisi lain, kebahagiaannya di rumah contoh merefleksikan keinginan besar untuk mandiri, sementara pergulatan batin menggambarkan titik jenuh emosional akibat kurangnya penghargaan atas segala kontribusinya. Dari perspektif mitos, film ini mencoba mendekonstruksi narasi tradisional “Banyak anak, banyak rezeki” dan dogma “Bakti tanpa batas” yang selama ini digunakan untuk membenarkan eksploitasi finansial atas nama relasi kekeluargaan. Sebaliknya, film ini memperkenalkan ideologi baru bahwa kesehatan mental dan kemandirian finansial lebih bernilai dibandingkan dengan mempertahankan aset fisik semata. Dalam hal ini, kerelaan orang tua Kaluna untuk melepaskan rumah penuh kenangan menjadi simbol pengorbanan tertinggi, yang didefinisikan ulang sebagai keberanian bersama untuk melepaskan sesuatu demi mencapai kedamaian kolektif.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
How to Cite
References
Khorinur, Muhammad, Asriyani Sagiyanto, and Fajar Diah Astuti, ‘Representasi Generasi Sandwich Dalam Film Home Sweet Loan : Analisis Semiotika Roland Barthes Representation of the Sandwich Generation in the Film Home Sweet Loan : A Semiotic Analysis of Roland Barthes’, 2025, pp. 16772–78 <https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/5105/5192>
Listiana, Leni, and Tuty Mutiah, ‘Analisis Semiotika John Fiske : Pengorbanan Generasi Sandwich Dalam Film Home Sweet Loan’, 2025
Rachman, Rio Febriannur, Universitas Airlangga, and Analisis Konten, ‘Representasi Dalam Film’, 1998, 2018
Roland Barthes, Imaji Musik Teks; Analisis Semiologi Atas Fotografi, Iklan, Film, Musik, Alkitab, Penulisan Dan Pembacaan Serta Kritik Sastra., ed. by Alfathri Adlin (2016)
Salsabila, Pramitha, ‘Pemenuhan Keberfungsian Sosial Pada Perempuan Generasi Sandwich Fulfillment of Social Functioning in Sandwich Generation Women’, 7.September (2023), pp. 109–20, doi:10.30595/jssh.v7i2.15137
Sudarji, Shanty, Hana Panggabean, and Rustono Farady Marta, ‘Challenges of the Sandwich Generation : Stress and Coping Strategy of the Multigenerational Care’, 7.3 (2022), pp. 263–75